Cukup sudah

“Mengapa kau datang lagi, saat aku sudah baik-baik saja tanpamu”

Hai senja masih ingat dengan dengan dia yang selalu aku rindukan?

Hujan masih ingat kau dengan airmata yang aku teteskan sama seperti tetesan mu?

Dan kau malam kau yang paling tahu tentang semua rahasia hati ini, bukan?

Semuanya sudah ku kubur dalam-dalam, semua kisah itu, semua kesedihan itu, semua kerinduan itu, semua tentang nya, semuanya.

Tapi kenapa pelangi … kau izinkan dia kembali lagi, kau izinkan dia hadir lagi menghiasi hati yang hampir mati. Padahal kau tau dia pulang bukan untuk menetap, tetapi hanya sesaat dan kemudian dia pergi lagi, sama seperti mu pelangi. Yang tiba- tiba datang lalu pergi begitu saja.

Kuatlah wahai hati jangan pasrah dengan keadaan, jangan biarkan dia hadir, aku tau kamu cukup kuat. Jadi, jangan biarkan mata mu yang indah itu meneteskan air mata lagi, sudah! Sudah cukup. Pergilah … bawa semua kenangan kita bersamamu, sehabis mungkin sampai tak tersisa. Aku mohon

–rahmasyia–

Iklan

Ayolah Hati

Sudahlah …

Hentikan rindu dan perasaan yang tak karuan itu! Kamu akan lelah .. Jika setiap putaran waktumu hanya memikirkan dan mengharapkan sesuatu yang entah kapan real nya.

Ayolah, simpan saja perasaan itu sampai yang kau tuju benar-benar faham. Ini membuatku malas karena karena harus melihat mu yang selalu larut dalam “ketidakpastian” semoga harimu tetap tegar❤

Aku Terpuruk

Tersesat dalam bait cerita yang tak tahu kemana alurnya berjalan

Tak pernah berujung untuk menemukan jalan keluarnya
Bergeming sendiri, terpaku di bawah sinaran cahaya remang yang bulat

Memikirkan khayalan-khayalan yang selalu berisi tentang seseorang

Seseorang yang selalu bersembunyi, lebih tepatnya hilang…

Ah… Sayang… Aku terpuruk, tersesat, bungkam dalam sendiri

Jangan bersembunyi, jangan menghilang lagi sayang…

Sebab hilangmu selalu merusak keseharianku dan suasana hati

Jangan lupa selalu beri kabar, sebab lupamu selalu saja membuatku terpuruk

Apalagi kalau sampai kamu pergi tanpa kabar…

Sepi, hampa yang selalu menimpaku.. Bertubi-tubi..

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni~
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu.

Bukan tentang puisi Sapardi, tapi tentang kepercayaan yang mulai luntur, walau kopi mengobati.

Oh, hujan bulan juni.

–rahmasyia–

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda di WordPress.com
Memulai